Monthly Archives: October 2015

Ketika berbicara tentang alam semesta, pertanyaan yang akhirnya selalu muncul adalah: apakah penyebab munculnya alam semesta? Darimanakah datangnya?

Jawaban yang akhirnya selalu muncul adalah: Big Bang. Alam semesta berasal dan bermula dari big bang. Big bang adalah penyebab keberadaan alam semesta.

Bagi sebagian orang, jawaban itu jauh daripada menyelesaikan masalah. Pertanyaan berikutnya: apakah yg menyebabkan big bang. Jawaban yg muncul biasanya: kehendak Tuhan.

To be continued

1 Comment

Premise 1: setiap kejadian harus punya penyebab #principle-of-universal-causation
Premise 2: jika setiap kejadian harus punya penyebab, maka kejadian yang sudah terjadi, haruslah terjadi (must happen). Dengan kata lain, jika kejadian itu harus terjadi, maka tidak mungkin terjadi kejadian lain selain daripada kejadian yang sudah benar-benar terjadi. Terkait dengan tindakan seseorang yang bertanggung jawab terhadap kejadian tersebut, ini berarti seseorang tersebut tidak bisa melakukan sesuatu yg lain selain yang sudah benar2 dia lakukan. #auxiliary-principle

Premise 3: jika tidak seseorang pun bisa melakukan sesuatu selain yang sudah benar2 dia lakukan, maka tidak seorang pun dapat bertindak bebas #principle-of-avoidability-and-freedom.

Oleh karenanya, tidak seorang pun bisa bertindak bebas #denial-of -free-will-theory.

1 Comment

Saya merasa yakin bahwa siapapun yang melakukan instropeksi akan dengan segera bisa menyadari bahwa banyak proses pemikiran dan pengalaman yang tidak melibatkan bahasa.

Bagaimana, misalnya, kita bisa meng-kata-kata-kan rasa daging, kerupuk, suara si A, suara si B? Bagaimana kita menjelaskan dengan kata-kata lukisan monalisa atau last supper nya leonardo da vinci?

Jadi, tidak lah benar bahwa kita mengalami dunia melalui kategori-kategori linguistik yang membentuk pengalaman kita atas dunia. Tidak benar pernyataan bahwa "dunia adalah sebagaimana kita deskripsikan melalui kata-kata".

Kata-kata-tentang-realitas adalah suatu hal. Realitas adalah hal lain.

Filsafat bukan hanya sebatas permainan kata-kata. Bukan 'talk about talk', sebagaimana yang diyakini dan di praktekkan oleh para pilosof 'era filsafat oxford' (1930-1960 an).

Ketika socrates bertanya: "apakah itu keadilan", "apakah keberanian itu?". Sesungguhnya dia tidak sedang bertanya tentang definisi kata "keadilan" dan "keberanian". Tapi sedang mempertanyakan hakikat dari fenomena yang existensinya independen dari bahasa.

Analytic Statements adalah pernyataan-pernyataan yang kebenaran dan kesalahannya bisa ditetapkan dengan cara menganalisis pernyataan itu sendiri.

Oleh karena itu, penyebab tidak sahnya sebuah pernyataan analitis adalah karena adanya kontradiksi-dalam-dirinya-sendiri (self-contradiction).

Synthetic Statements adalah pernyataan-pernyataan yang kebenaran kesalahannya hanya bisa ditetapkan dengan mencocokkannya dengan sebuah reaitas di luar pernyataan itu sendiri.

Oleh karena itu, penyebab tidak sahnya sebuah pernyataan sintesis adalah sebuah pernyataan yang mungkin benar, tetapi dalam kenyataan tidak demikian.

Cara pandang umum membuat kita sepenuhnya berada dalam kegelapan mengenai hakikat intrisik benda-benda fisik. Dan, kalaupun ada alasan bagus untuk menganggap benda-benda tersebut bersifat mental, kita tidak boleh menolak opini ini hanya karena opini tetsebut terasa aneh buat kita. Kebenaran mengenai benda-benda fisik memang haruslah terasa aneh. 

-Russel. "The Problems of Philosophy"-

Bahwa bahasa tidak tata bahasa tidak merfleksikan logika ideal, akan tetapi merupakan bagian dari bahasa itu sendiri.
Kita tidak dapat mengetahui apapun di luar bahasa. Bahasa adalah satu-satunya yang kita punya untuk berfikir.
Bahasa tidak tergantung pada hukum-hukum ideal logika, akan tetapi semata mata hanya berdasarkan pada kesepakatan orang-orang. 

-Wittgenstein-