Skip to content

O2O – The Final Destination?

O2O menjadi topik yang ramai dibicarakan. Berbagai tulisan, kajian, seminar muncul di mana-mana. Bulan Maret 2018 lalu, Grab mengumumkan bahwa Grab akan menjadi penyedia mobile platform Online To Online (O2O) nomer satu di Asia Tenggara. Raksasa Alibaba meng-investasikan dana triliunan rupiah dalam upayanya mengembangkan ekosistem bisnis O2O. Jadi, apa sebenarnya O2O?

'Versi awal' dari konsep model bisnis O2O, bisa digambarkan dalam narasi berikut:

Jika anda ditanya, apakah anda bersedia untuk membeli suatu jenis barang yang cukup bernilai, cukup mahal, hanya dengan melihatnya dari tampilan aplikasi di layar komputer atau smartphone? Untuk sebagian besar dari kita, jawabannya adalah 'Tidak'. Kita tidak mau ambil resiko membeli 'kucing dalam karung'.

Ini adalah tantangan yang dihadapi oleh para retail online. Produk-produk bisa terlihat sangat bagus, menarik; tapi, tanpa interaksi fisik, customer akan tetap merasa tidak yakin.

Di sisi lain, pergi ke toko (fisik, offline) adalah sesuatu hal yang makin lama makin tidak menarik, menyita waktu, dan harga yang lebih mahal dibanding berbelanja secara online.

O2O adalah upaya yang mencoba menggabungkan dua kelebihan dari dua model retail ini (online dan offline).

Konsep O2O 'versi awal' ini didefinisikan sebagai: upaya untuk 'menarik ' customer secara online (melalui katalog online, aplikasi, website, email) dan mengarahkannya ke toko-toko fisik (offline) untuk melakukan transaksi. Mencari barang secara online, dan eksekusi transaksi secara offline di toko fisik.

Contoh yang sering jadi acuan adalah Amazon Go Store, Amazon Whole Foods.

Selanjutnya, model bisnis O2O berkembang dengan penambahan layanan-layanan:

  • pembelian barang secara online, barang dikirim ke toko fisik, lalu customer mengambil barang di toko fisik.
  • retur dan tukar barang yang dibeli secara online di toko fisik.
  • pembelian online di toko-toko fisik.

Contoh yang sering jadi acuan misalnya adalah MatahariMall. Konsumen membeli barang secara online, lalu mengambil barang nya di titik-titik yang dimiliki MatahariMall di seluruh Indonesia. Contoh lain adalah layanan loker pintar PopBox,

Adopsi model bisnis O2O yang cepat dan massive di berbagai belahan dunia, terutama China, menjadikan konsep O2O semakin berkembang. O2O, bukan lagi satu arah: Online To Offline. Tapi juga, dalam arah sebaliknya: Offline To Online. Model bisnis yang sering dijadikan contoh saat ini misalnya:

  • layanan pesan-antar makanan (food delivery) seperti GrabFood, GoFood, Uber Eats.
  • layanan transportasi Uber, Gojek.
  • layanan akomodasi Airbnb, Agoda.

to be continued.

Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

shares