Skip to content

“Microservices Architecture” : re-engineering Struktur Lembaga Keuangan

Memasuki era digitalisasi yang sangat sarat dengan perubahan-perubahan serba cepat, ada dua trend keilmuan dan praktek yang berkembang pesat dalam industri pengembangan teknologi informasi khususnya terkait dalam pengembangan sistem (software aplikasi): Micro-Service Architecture dan Agile Methodology.

Jika di-analogi-kan dengan proses men-desain dan membangun sebuah rumah, maka micro-service architecture adalah tentang struktur dan komponen rumah yang akan dibangun. Sedangkan, agile methodology adalah tentang bagaimana kita merencanakan dan mengelola proyek pembuatan rumah tersebut. Kalau micro-service archicture berbicara tentang bagaimana agar rumah tersebut kuat, memudahkan proses operasional, perawatan, pemeliharaan dan pengembangan. Sedangkan agile methodology berbicara tentang bagaimana agar proses desain dan pembangunan rumah tersebut bisa selesai tepat waktu dan sesuai dengan keinginan pemilik rumah.

Tulisan ini akan mencoba membahas arti penting pendekatan microservice architecture dan kaitannya dengan pengembangan dan penguatan lembaga keuangan mikro khususnya dan lembaga keuangan pada umumnya. Sedangkan, untuk pembahasan kaitan dan arti penting agile methodology dengan industri layanan keuangan, akan dibahas dalam tulisan yang lain.

Tantangan bagi para pengembang sistem (pembuat software) di era serba cepat berubah ini adalah, bagaimana bisa membangun sistem yang bisa ber-adaptasi cepat dengan kebutuhan pasar yang ber-ubah dengan cepat. Ini menyangkut dua hal:

  • struktur sistem yang harus memungkinkan bisa diubah dan disesuaikan dengan cepat -- arsitektur microservice
  • manajemen tim pengembang (project management) agar bisa beradaptasi cepat dengan tuntutan perubahan-perubahan spesifikasi sistem --agile management
    Dengan pendekatan arsitektur microservice, para pengembang software tidak lagi men-desain sebuah sistem yang besar dengan kemampuan besar, tapi, memecah-mecah sistem menjadi sistem-sistem (service) kecil, masing-masing dengan fungsi spesifik, untuk kemudian saling terhubung dan menjadi sebuah sistem agregat (gabungan) yang besar dengan kemampuan besar. Analogi sederhananya: alih-alih membuat dan menggunakan super komputer yang besar, maka, Google membuat ratusan / ribuan komputer kecil (personal computer), masing-masing dengan fungsi yang spesifik, yang terhubung satu sama lain sehingga, secara agregat (keseluruhan), kapasitas dan kemampuannya menjadi sangat besar. Keuntungan pendekatan micro-architecture ini adalah: jika salah satu atau lebih sistem mikro bermasalah, tidak akan mengakibatkan keseluruhan sistem bermasalah. Permasalahan di-isolasi hanya di sistem mikro tersebut. Keuntungan lain adalah, proses pemeliharaan dan pengembangan dapat dilakukan secara bertahap tanpa harus khawatir akan mengakibatkan gangguan terhadap keseluruhan sistem.

Pendekatan micro-service ini relevan dan bisa kita jadikan model serta paradigma dalam upaya kita memperkuat lembaga keuangan mikro, dan bahkan industri keuangan pada umumnya, pada level yang lebih nasional dan global.

Krisis dan Lembaga Keuangan

Dalam kurun waktu dekade terakhir, kita di hadapkan pada tiga kejadian besar skala global yang menarik: krisis moneter 1998, krisis subprime mortgage di Amerika tahun 2008 dan pandemi Covid-19 yang saat ini masih berlangsung. Krisis 1998 dan 2008, selalu melibatkan lembaga-lembaga keuangan besar. Ribuan triliun bahkan lenyap seketika melalui dan oleh lembaga-lembaga keuangan super besar, secepat kita menekan tombol enter di keyboard komputer kita.

Tahun 1998, spekulasi George Soros melalui Quantum Fund (sebuah perusahaan hedge fund, yang mengelola dana investasi kolektif global yang teramat besar), telah mengakibatkan kekacauan moneter khususnya di Asia. Akibatnya, industri perbankan Indonesia mengalami kehancuran luar biasa. Bank-bank besar berguguran dan ribuan triliun uang rakyat, lenyap seketika.

Tahun 2008, krisis yang berawal dari permasalahan subprime mortgage (kredit perumahan, properti) di Amerika Serikat, menyebar ke berbagai penjuru dunia. Sektor perbankan di Amerika dan Eropa kolaps (indonesia, beruntung, hanya 2 bank yang ter-dampak: Bank Century dan Bank IFI).

Pandemi covid-19, dampak ekonominya baru saja mulai dirasakan, dan akan semakin terasa dalam beberapa waktu mendatang. Beberapa waktu terakhir, beredar video tentang analisis pasar modal dan keuangan yang secara explisit menyatakan bahwa, yang jadi penentu, yang jadi penguasa sekarang, yang menjadi pemain kunci perubahan dari krisis akibat pandemi covid-19 ini, bukan lah pemerintah. Pemegang kunci kekuasaan adalah Goldman Sachs, perusahaan bank investasi dan layanan keuangan global multinasional. Lagi-lagi, industri keuangan….

"It is global, systemic and malignant"

Struktur industri keuangan yang bertumpu pada lembaga-lembaga serba super besar, global, menurut hemat kami, adalah struktur yang sangat berbahaya dan sekaligus rentan. Global, sistemik dan ganas (global, systemic and malignant), jargon yang selalu berulang di sampaikan oleh salah seorang rekan diskusi. Dan, selama struktur ini masih kukuh kuat, maka nasib penduduk bumi, nasib teman dan saudara saya yang tinggal di pelosok Sumedang sana (yang mungkin, di peta dunia pun tidak tertulis), akan tergantung oleh para malignant ini. Kalau 1998 ada Quantum Fund George Soros, 2008 ada Lehman Brothers, Merrill Lynch, AIG, sekarang, 2020, ada Goldman Sachs… Krisis 10-tahunan akan terus berulang (Note, tahun 2018, sebenarnya, dunia kembali dilanda krisis akibat kebijakan The Fed dan perang dagang berkelanjutan antara AS dan China. Negara yang terkena dampak besar adalah Argentina, Venezuela dan Turki).

BMT, Lembaga Keuangan Mikro dan Industri Lembaga Keuangan

Berkaca dari pengalaman berbagai krisis tersebut serta analogi dengan model arsitektur micro-service sebagaimana sekarang di-implementasikan oleh berbagai perusahaan teknologi informasi di berbagai penjuru dunia, lokal maupun global, bahwa ternyata, alih-alih mengandalkan suatu suprastruktur yang super besar, adalah lebih baik memecah sumberdaya, memecah struktur super besar menjadi struktur-struktur mikro, yang mampu berdiri sendiri, tapi sekaligus saling menyokong dan mendukung sehingga membentuk kekuatan dan kemampuan agregat yang besar. Pendekatan micro-architecture memungkinkan kita untuk membangun kekuatan secara bertahap, sambil juga me-mitigasi permasalahan yang mungkin (dan pasti) timbul di level mikro yang bisa di-isolasi sehingga dampaknya bisa kita kendalikan.

Sebagian teman-teman aktivis BMT, bersikukuh bahwa BMT adalah gerakan, bukan industri. Terlepas dari berbagai argumen yang menyertainya, menurut hemat kami, pembicaraan penguatan BMT, yang dinyatakan sebagai lembaga keuangan mikro, tidak bisa dilepaskan dari struktur industri lembaga keuangan, yang, sebagaimana sekilas telah kami uraikan di atas, mempunyai peranan dan dampak yang tidak bisa di-negasi-kan. Menjadi tantangan dan tugas mulia bagi kita, jika kita bisa membangun suatu struktur industri keuangan alternatif, yang kuat bukan dari ukuran masing-masing, tapi ukuran agregat. Size Matters: yes. Tapi, Size Agregat. Bukan size individual. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Ratusan lidi yang bersatu dalam satu ikatan menjadi sapu yang sangat kuat, dibanding kekuatan masing-masing lidi yang sangat mudah di patahkan.

Role Sharing vs Downsizing

Cara pandang terhadap BMT, koperasi dan lembaga keuangan mikro pada umumnya, yang selalu melihat bahwa BMT atau LKM adalah 'miniatur' lembaga keuangan perbankan, harus diubah. Cara pandang ini sangat tidak tepat dilihat dari pendekatan strategi pengembangan usaha BMT/LKM dan menyesatkan arah dalam upaya membangun struktur industri keuangan yang kuat.

Dari kacamata pendekatan strategi pengembangan usaha BMT, upaya menjadikan BMT sebagai miniatur Bank, adalah sangat absurd. Kenapa? Size Matters!!! Lembaga keuangan, untuk bisa bersaing dan mengembangkan usaha, harus memiliki infrastruktur dan sistem pendukung yang memadai: jaringan kantor, sumber daya manusia, teknologi informasi. Satu hal saja, misalnya: teknologi informasi. Kebutuhan feature infrastruktur teknologi informasi untuk layanan jasa keuangan, baik untuk bank dan BMT, sama saja. Harus ada fitur electronic channel (mobile banking, misalnya), berbagai jenis produk layanan (epayment, transfer, epurchase, e-loan). Teknologi informasi layanan keuangan membutuhkan infrastruktur hardware, data center, infrastruktur operasional, software/sistem yang lengkap dan handal. Kemampuan lembaga perbankan dan BMT, untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur teknologi ini, tentu saja sangat berbeda jauh. Lembaga perbankan, dengan size business nya yang lebih besar, tentu saja mampu untuk membiayai pengembangan maupun pengoperasian teknologi informasi ini. Untuk BMT, dengan size business nya yang terbatas, ini menjadi masalah besar.
Dari sisi lain, untuk melayani pasar yang sangat luas, menjangkau layanan umkm dan nasabah yang sangat beragam, kemampuan lembaga perbankan memiliki keterbatasan. Keterbatasan infrastruktur kantor, keterbatasan sumber daya manusia. BMT dan LKM, sebaliknya, mempunyai kemampuan dan keleluasaan yang lebih.
Jadi, menurut hemat kami, alih-alih paradigma downsizing, yang harus di gunakan adalah paradigma role-sharing, berbagi peran. Berbagi peran antara berbagai lembaga keuangan, dalam hal ini adalah lembaga perbankan dan BMT / LKM. Maksimalkan potensi masing-masing. Alangkah indahnya, misalnya, jika BMT dan LKM bisa menggunakan infrastruktur (dan license) teknologi informasi layanan keuangan digital lembaga keuangan perbankan, pada saat yang sama, lembaga keuangan perbankan bisa memaksimalkan, bekerja sama dengan jaringan kantor dan sumber daya manusia BMT / LKM yang tersebar di mana-mana untuk menjangkau dan melayani nasabah mikro dan pelosok (remote area).

Sinergi vs Kompetisi

Konsekuensi langsung dari role-sharing vs downsizing adalah paradimga sinergi vs kompetisi. Sungguh sangat memprihatinkan melihat bagaimana dalam beberapa waktu terakhir, lembaga perbankan melakukan berbagai strategi dan upaya untuk memasuki dan merebut pasar nasabah-nasabah dari kalangan UMKM dan remote area. Dan, upaya-upaya tersebut, terbukti juga tidak membuahkan hasil yang memuaskan. Upaya funding dan lending yang menyasar ke sektor UMKM dan remote area (pelosok), lebih banyak didasari dan difasilitasi oleh berbagai kebijakan dan insentif pemerintah / regulator. Misalnya: program layanan keuangan tanpa kantor laku pandai, simpanan pelajar, KUR (kredit usaha rakyat). Ketika dorongan dan insentif ini sudah tidak ada / berkurang, maka perbankan kembali kepada "urusannya", yakni melayani pasar-pasar yang secara ekonomi, secara bisnis lebih feasible, yakni nasabah kelas menengah atas, dan usaha-usaha menengah besar. Idealisme memperkuat UMKM tidak berhasil maksimal, tapi, merusak "industri" layanan keuangan mikro: iya.
Sudah saatnya, di era digital ini, di era sharing economy, paradigma yang dibangun adalah paradigma Sinergi, bukan kompetisi. Lembaga keuangan perbankan, ber-sinergi dengan lembaga-lembaga keuangan mikro. Bukan ber-kompetisi. Kolaborasi bukan akusisi.

Bandung, 1 Juni 2020.
Kang Maman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares