Author Archives: kangmaman

Renungan Pasca Silaknas Pinbuk 23-25 Maret 2018

Tingkat keberhasilan implementasi Mobile App LKM Mobile (BMT mobile,lpdmobile, koperasi mobile, BPR mobile, dll), terjadi di lkm2 yang mempunyai karakteristik : "LKM komunitas"....

KOMUNITAS....

Kenapa di LPD Bali relatif lebih berhasil: karena, LPD mempunyai karakteristik sebagai lembaga komunitas... anggota / nasabah LPD adalah komunitas homogen krama (warga) banjar.... warga desa adat....

Kenapa Koperasi X Mobile relatif sukses: karena Koperasi X mempunyai karakteristik lembaga komunitas... anggotanya merasa sebagai satu komunitas....

Itu premis nya...
hanya BERHASIL baik, JIKA diterapkan di LEMBAGA KEUANGAN BERBASIS KOMUNITAS.

Sudah banyak BMT, BPR, koperasi yang kita terapkan EChannel (IBS Mobile: BMT Mobile, BPR Mobile, dll)...

Tapi, yang sukses, hanya di bali dan Koperasi X... dan sekarang NW....

Saya ulangi:

Premis nya...
hanya BERHASIL baik, JIKA diterapkan di LEMBAGA KEUANGAN BERBASIS KOMUNITAS.

Sudah banyak BMT, BPR, koperasi yang kita terapkan EChannel (IBS Mobile: BMT Mobile, BPR Mobile, dll)...

Tapi, yang sukses, hanya di bali dan Koperasi X... dan sekarang NW....

adi, kita harus membangun komunitas2 digital (meng BMT / LKM khan komunitas2).....

Komunitas mesjid, komunitas pengajian, komunitas ormas, komunitas sekolah, komunitas desa, komunitas kerja (kopkar2....)....

Semuanya, tampak make sense...

Saya kira, ini strategi pinbuk 4.0
Pinbuk tetap fokus dan leading di pembentukan BMT2...
Hanya saja,

  • BMT nya lebih strict: harus dipilih BMT yg ber karakteristik komunitas
  • Dari awal, semuanya harus BMT Digital
  • Tahap pengembangan bisnis, harus menjadi perhatian utama. (Kalau dulu, buku panduan lebih menekankan pada panduan PENDIRIAN)

Poin 3: panduan PENGEMBANGAN... kita arahkan, mulai dari :

  • Layanan keuangan digital (epayment, dll)
  • E-commerce....
  • ...
  • ...
  • Pembiayaan

Jadi, pembiayaan adalah tahap paling akhir. Itu guidance umumnya. Meskipun, komunitas2 tertentu, bisa saja tidak demikian. Contoh, di komunitas kerja (kopkar), layanan Tasakur (tabungan saldo kurang), menjadi hal pertama

Permasalahan terkait presepsi, secara singkat dapat dinyatakan sebagai berikut:

Jika semua dunia fisik yang ada di sekitar kita adalah suatu realitas external yang independen dari keberadaan kita, dan keberadaannya ada di ruang dan waktu yang juga eksis independen dari kita, dan bahwa pengetahuan kita terhadap dunia tersebut adalah hasil interaksi indera kita dengan dunia fisik tersebut yang mana melalui interaksi tersebut, muncullah penyimpulan dalam otak kita terhadap keberadaan dunia tersebut (presepsi), maka pertanyaannya adalah: bagaimana kita bisa yakin bahwa presepsi tersebut benar-benar berkorespondensi dengan realitas sebenarnya dari dunia fisik tersebut? Bukankah sering terbukti bahwa indera kita sering salah?

Untuk membuktikan kebenarannya, kita harus membandingkan dengan realita aslinya. Tapi persoalannya, kita tidak punya akses terhadap realitas aslinya. Kita hanya punya akses terhadap salinannya, yang bahkan dari salinan tersebut, kita menarik kesimpulan terhadap keberadaan realitas aslinya.

Kesalahan presepsi sudah umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seekor ular di atas meja yang kita prsepsikan, ternyata adalah sebuah lukisan tiga dimensi yang sangat sempurna. Warna-warna berubah-ubah tergantung pencahayaan dan sudut pandang. Jadi, bagaimana kita bisa yakin bahwa apa yang kita ketahui selama ini tidak keliru?

Lagipula, apa yang kita 'ketahui' sebagai hasil proses otak kita terhadap pencerapan indra kita, apakah benar-benar merupakan realitas tersebut atau hanya sifat-sifatnya saja? Hanya kualitas-kualitas dari objek realitas tersebut? Objek realitas nya sendiri tidak pernah kita ketahui dan fahami. Apakah yang dimaksud dengan 'harimau'? Apakah sesuatu yang bertaring, berbulu loreng, pemakan daging? Berapa banyak kualitas / sifat yang harus kita sebut untuk 'mendefinisikan' realitas harimau? Yang sedang kita bicarakan ini adalah harimau atau sifat-sifat harimau? Jadi apa sebenarnya harimau itu?

Pertama. Jangan menerima sebagai suatu kebenaran apapun yang kita tidak jelas-jelas ketahui kebenarannya.

Kedua. Uraikan permasalahan menjadi satuan-satuan masalah kecil sebanyak mungkin atau sebanyak yang dibutuhkan untuk memudahkan penyelesaian.

Ketiga. Selesaikan satuan satuan masalah tersebut, mulai dari yang paling mudah, lalu meningkat ke masalah yang paling rumit. Tata ulang urutan penyelesaian kalau perlu.

Keempat. Membuat perincian di semua bagian secara detail dan menyeluruh sehingga tidak ada yang terlupakan atau terlewat.

 

Asas berfikir adalah prinsip-prinsip yang menjadi landasan berfikir logis.

  1. Asas Identitas  (principium identitatis). Asas ini menyatakan bahwa sesuatu itu adalah dia, bukan yang lainnya. Jika kita mengetahui bahwa sesuatu itu adalah A, maka pastilah ia A, bukan X, Y atau Z. Bila proposisi itu benar, maka benarlah ia.
  1. Asas kontradiksi (principium contradictoris). Asas ini menyatakan bahwa pengakuan tidak mungkin sama dengan pengingkarannya. Jika kita mengetahui bahwa sesuatu itu bukan A, maka tidak mungkin pada saat itu, ia adalah A. Tidak ada proposisi yang sekaligus benar dan salah.
  1. Asas Penolakan Kemungkinan Ketiga. Asass ini menyatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran, kebenaran terletak pada salah satunya. Tidak mungkin ada kemungkinan ketiga. Suatu proposisi selalu dalam keadaan benar atau salah. Tidak ada kemungkinan ketiga.

    Saat kita mengklaim bahwa sesuatu pasti terjadi, kita berkata: "hujan harus terjadi", "pasti akan terjadi hujan".  Kita juga punya banyak cara untuk menyatakan bahwa, meskipun pada kenyatannya sesuatu tidak terjadi, tapi bisa saja terjadi: "hujan bisa terjadi besok", "bukan tidak mungkin besok akan terjadi hujan". Jika a adalah pernyataan, maka dalam ilmu logika,  klaim bahwa jika a haruslah benar dinyatakan sebagai ☐a. Sedangkan klaim bahwa a bisa saja benar sebagai ♢a. Simbol ☐ dan ♢ disebut modal operator

    Ketika berbicara tentang alam semesta, pertanyaan yang akhirnya selalu muncul adalah: apakah penyebab munculnya alam semesta? Darimanakah datangnya?

    Jawaban yang akhirnya selalu muncul adalah: Big Bang. Alam semesta berasal dan bermula dari big bang. Big bang adalah penyebab keberadaan alam semesta.

    Bagi sebagian orang, jawaban itu jauh daripada menyelesaikan masalah. Pertanyaan berikutnya: apakah yg menyebabkan big bang. Jawaban yg muncul biasanya: kehendak Tuhan.

    To be continued

    1 Comment

    Premise 1: setiap kejadian harus punya penyebab #principle-of-universal-causation
    Premise 2: jika setiap kejadian harus punya penyebab, maka kejadian yang sudah terjadi, haruslah terjadi (must happen). Dengan kata lain, jika kejadian itu harus terjadi, maka tidak mungkin terjadi kejadian lain selain daripada kejadian yang sudah benar-benar terjadi. Terkait dengan tindakan seseorang yang bertanggung jawab terhadap kejadian tersebut, ini berarti seseorang tersebut tidak bisa melakukan sesuatu yg lain selain yang sudah benar2 dia lakukan. #auxiliary-principle

    Premise 3: jika tidak seseorang pun bisa melakukan sesuatu selain yang sudah benar2 dia lakukan, maka tidak seorang pun dapat bertindak bebas #principle-of-avoidability-and-freedom.

    Oleh karenanya, tidak seorang pun bisa bertindak bebas #denial-of -free-will-theory.

    1 Comment

    Saya merasa yakin bahwa siapapun yang melakukan instropeksi akan dengan segera bisa menyadari bahwa banyak proses pemikiran dan pengalaman yang tidak melibatkan bahasa.

    Bagaimana, misalnya, kita bisa meng-kata-kata-kan rasa daging, kerupuk, suara si A, suara si B? Bagaimana kita menjelaskan dengan kata-kata lukisan monalisa atau last supper nya leonardo da vinci?

    Jadi, tidak lah benar bahwa kita mengalami dunia melalui kategori-kategori linguistik yang membentuk pengalaman kita atas dunia. Tidak benar pernyataan bahwa "dunia adalah sebagaimana kita deskripsikan melalui kata-kata".

    Kata-kata-tentang-realitas adalah suatu hal. Realitas adalah hal lain.

    Filsafat bukan hanya sebatas permainan kata-kata. Bukan 'talk about talk', sebagaimana yang diyakini dan di praktekkan oleh para pilosof 'era filsafat oxford' (1930-1960 an).

    Ketika socrates bertanya: "apakah itu keadilan", "apakah keberanian itu?". Sesungguhnya dia tidak sedang bertanya tentang definisi kata "keadilan" dan "keberanian". Tapi sedang mempertanyakan hakikat dari fenomena yang existensinya independen dari bahasa.