Skip to content

Go Lang adalah static typed language. Artinya, type variable akan di periksa sebelum eksekusi. Jika ada penggunaan variabel yang salah (beda type antara variabel dan 'nilai' variabel), maka program tidak akan bisa di eksekusi (error).

Ada 4 cara untuk men-deklarasi dan meng-inisialisasi variabel dalam Go Lang.

  • s := ""
  • var s string
  • var s = ""
  • var s string = ""

Cara deklarasi pertama ( s := ""), disebut Short Variable Declaration. Dwngan short variable declaration, suatu variabel di-deklarasikan dan sekaligus di-inisialisasi nilai secara eksplisit (Declare & Initialize).

Cara deklarasi kedua ( var s string ), type variabel di deklarasi secara eksplisit (string). Sedangkan nilai awal di inisialisasi secara implisit, yakni bernilai empty type string, yang dalam hal ini adalah "".

Cara deklarasi ketiga, type variabel di deklarasikan secara implisit sebagai type string, sesuai dengan nilai awal yang di-inisialisasi secara eksplisit, yakni "".

Cara deklarasi ke-empat, adalah gabungan antara cara kedua dan ketiga. Dan ini jarang digunakan, karena redundant.

Dalam prakteknya, para programmer Go biasanya menggunakan cara kesatu dan kedua. Inisialisasi Eksplisit (cara 1), menunjukkan bahwa nilai awal adalah penting. Sedangkan Inisialisasi Implisit (cara 2), menunjukkan bahwa nilai awal tidak penting.

O2O menjadi topik yang ramai dibicarakan. Berbagai tulisan, kajian, seminar muncul di mana-mana. Bulan Maret 2018 lalu, Grab mengumumkan bahwa Grab akan menjadi penyedia mobile platform Online To Online (O2O) nomer satu di Asia Tenggara. Raksasa Alibaba meng-investasikan dana triliunan rupiah dalam upayanya mengembangkan ekosistem bisnis O2O. Jadi, apa sebenarnya O2O?

'Versi awal' dari konsep model bisnis O2O, bisa digambarkan dalam narasi berikut:

Jika anda ditanya, apakah anda bersedia untuk membeli suatu jenis barang yang cukup bernilai, cukup mahal, hanya dengan melihatnya dari tampilan aplikasi di layar komputer atau smartphone? Untuk sebagian besar dari kita, jawabannya adalah 'Tidak'. Kita tidak mau ambil resiko membeli 'kucing dalam karung'.

Ini adalah tantangan yang dihadapi oleh para retail online. Produk-produk bisa terlihat sangat bagus, menarik; tapi, tanpa interaksi fisik, customer akan tetap merasa tidak yakin.

Di sisi lain, pergi ke toko (fisik, offline) adalah sesuatu hal yang makin lama makin tidak menarik, menyita waktu, dan harga yang lebih mahal dibanding berbelanja secara online.

O2O adalah upaya yang mencoba menggabungkan dua kelebihan dari dua model retail ini (online dan offline).

Konsep O2O 'versi awal' ini didefinisikan sebagai: upaya untuk 'menarik ' customer secara online (melalui katalog online, aplikasi, website, email) dan mengarahkannya ke toko-toko fisik (offline) untuk melakukan transaksi. Mencari barang secara online, dan eksekusi transaksi secara offline di toko fisik.

Contoh yang sering jadi acuan adalah Amazon Go Store, Amazon Whole Foods.

Selanjutnya, model bisnis O2O berkembang dengan penambahan layanan-layanan:

  • pembelian barang secara online, barang dikirim ke toko fisik, lalu customer mengambil barang di toko fisik.
  • retur dan tukar barang yang dibeli secara online di toko fisik.
  • pembelian online di toko-toko fisik.

Contoh yang sering jadi acuan misalnya adalah MatahariMall. Konsumen membeli barang secara online, lalu mengambil barang nya di titik-titik yang dimiliki MatahariMall di seluruh Indonesia. Contoh lain adalah layanan loker pintar PopBox,

Adopsi model bisnis O2O yang cepat dan massive di berbagai belahan dunia, terutama China, menjadikan konsep O2O semakin berkembang. O2O, bukan lagi satu arah: Online To Offline. Tapi juga, dalam arah sebaliknya: Offline To Online. Model bisnis yang sering dijadikan contoh saat ini misalnya:

  • layanan pesan-antar makanan (food delivery) seperti GrabFood, GoFood, Uber Eats.
  • layanan transportasi Uber, Gojek.
  • layanan akomodasi Airbnb, Agoda.

to be continued.

Task Management vs Time Management

Covey lebih menekankan kepada metodologi berfikir.
GTD, menekankan aspek metodologi menulis.

Covey, mengajarkan bagaimana cara membuat perencanaan.
GTD, mengajarkan bagaimana cara menjalankan rencana-rencana tersebut.

Covey, berbicara tentang Task Management: apa yang harus dikerjakan.
GTD, berbicara tentang Time Management: kapan harus dikerjakan.

Covey berbicara tentang efektifitas.
GTD berbicara tentang efisiensi.

#leadership #management #habi

Wawancara untuk Harian Radar Lombok / Jawa Pos

Pertama, bahwa, industri keuangan, sekarang sedang mendapat 'ancaman' dari industri yang justeru tidak berlatar belakang industri keuangan. Tapi, industri e-commerce.

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4424794/gopay--ovo-laris-manis-sri-mulyani-minta-pns-kemenkeu-gerak-cepat

https://www.cnbcindonesia.com/fintech/20181205152340-37-45092/alibaba-google-amazon-jadi-ancaman-terbesar-bisnis-bank

Mengapa demikian? jawabannya sederhana. Industri keuangan bukanlah industri yang berdiri sendiri, bahkan bukan industri 'hulu', bukan 'driver' pertama industri-industri lainnya. Industri keuangan muncul dan akan berkembang jika ada kegiatan ekonomi, ada transaksi yang mendasarinya: underlying transaction.

Tidak mungkin kita sekonyong-konyong membangun kantor dan layanan bank di daerah pelosok, daerah rintisan, dan berharap layanan keuangan disitu berkembang pesat. Bank (layanan keuangan), hanya akan muncul di suatu wilayah, jika di wilayah tersebut sudah ada kegiatan perekonomian lainnya, sudah ada transaksi jual beli, sudah ada underlying transaction.

Itulah sebabnya, go-pay, ovo, bisa langsung melejit mengalahkan layanan-layanan keuangan baik dari perbankan maupun fintech.

Go-pay dan Ovo (layanan keuangan digital), dihadirkan ke masyarakat, dengan membawa serta underlying transactionnya. Go-pay dan Ovo, tidak hanya sebatas untuk pembayaran e-payment (bayar listrik, PDAM, pulsa) dan transfer. Tapi juga membawa seabrek berbagai jenis transaksi yang pembayarannya menggunakan Go-pay atau OVO. Mulai dari bayar parkir, sampai beli tiket.

Ini yang tidak bisa dihadirkan oleh industri perbankan.

Tidak sampai 1 tahun, go-pay, ovo: menggilas layanan2 keuangan perbankan dan fintech, khususnya untuk transaksi micro-payment.

Kesimpulannya: pengembangan layanan keuangan digital yang akan dan sedang dilakukan oleh perbankan, khususnya BPD NTB, BPR NTB, BPD Syariah; agar bisa sukses, harus juga dibarengi dengan pengembangan industri e-commerce nya. Underlying transaction nya harus dibangun, di perkaya. Kalau tidak, maka, masyarakat dan nasabahnya tetap akan lebih memilih layanan keuangan Go-pay, OVO dan lainnya, yang mempunyai content yang jauh lebih banyak dan luas.

Kalau dalam konteks bank ntb syariah dan BPR NTB yang memang pangsa pasarnya di NTB ini dalam pengembangan digital seberapa besar peluang menggaet nasabah ataupun pelayanannya?

Kuncinya adalah: Underlying tansaction. Content2 lokal, transaksi2 lokal, pembayaran2 lokal, harus di kembangkan. BPR NTB dan BPD NTB harus mendukung upaya membangun content2 lokal, pembayaran2 lokal, transaksi2 lokal.

Jangan biarkan, content2 lokal diberikan ke pihak luar. Misal: pembayaran PDAM NTB, hanya bisa bilakukan oleh BPR NTB, BPD NTB. Transaksi2 di komplek wisata mandalika, hanya bisa dilayani oleh BPR NTB, BPD NTB... dst...

Jangan terlalu fokus hanya mengembangkan teknologi keuangan nya. Tapi, harus didukung oleh pengembangan content nya.

Pemda harus mendorong, agar lembaga-lembaga keuangan NTB, mendapat prioritas untuk semua kegiatan transaksi digital di wilayah NTB.

Contoh, ketika Cina membangun sistem pembayaran nasional nya (Union Pay) dalam rangka menggeser dominasi Visa Master. Pemerintah cina, mewajibkan semua transaksi di hotel2, mall2, toko2, restoran2 di china, agar menggunakan Union Pay, bahkan, mewajibakan hanya menerima Union Pay.

Meskipun pada awalnya di protes oleh berbagai pihak, tapi, terbukti sekarang, Union Pay berhasil menggeser dominasi Visa Master di China.

untuk menuju NTB Go Digital apa saja yang harus dipersiapkan Bank NTB Syariah dan BPR NTB?

  1. Teknologi finansial (fintech), jelas harus dibangun, dengan paradigma: bagaimana agar nasabah bisa bertransaksi dengan lebih mudah, lebih murah dan jangkauan pelayanan yang luas.
  2. Bekerjasama dengan para pihak (pemda, swasta pelaku usaha, pariwisata...), untuk bersama-sama mengembangkan 'content' layanan keuangan layanan keuangan digital Bank NTB. Yakni, bagaimana, kalau memungkinkan, semua transaksi-transaksi yang terjadi, mem-prioritaskan atau bahkan, hanya bisa dilayani oleh layanan keuangan digital Bank NTB. Sehingga, masyarakat / nasabah, akan memilih menggunakan layanan keuangan digital Bank NTB, alih-alih menggunakan layanan keuangan bank lain di luar NTB atau layanan-layanan keuangan fintech.

Kalau untuk BPR NTB sendiri yang memag pangsa pasarnya adalah usaha mikro pedesaan bagaimana dalam pengembangan digital ini Pak Maman?

Digitalisasi usaha mikro. Bagaimana, agar usaha-usaha mikro ini, bisa bertransaksi menggunakan layanan keuangan digital BPR NTB.

Suka atau tidak suka, ada upaya dari BPR NTB atau tidak, lambat laun, usaha-usaha mikro ini, akan menggunakan layanan keuangan OVO, go-pay, dan layanan2 keuangan lainnya. Bukan layanan keuangan digital BPR NTB.

Perlahan (bahkan cepat) tapi pasti, warung2 makanan, sudah di tempel QRCode OVO, Go-pay, Yap BNI.... Itu semua layanan keuangan digital. Dan, tidak ada satupun layanan keuangan BPR atau BPD NTB.

Kami punya konsep, bagaimana men-digitalisasi usaha-usaha mikro ini, menjadi go-digital. Melalui pembentukan GERAI PINTAR DIGITAL.

De facto: usaha-usaha mikro ini, sekarang, di digitalisasi oleh gopay, ovo, BNI Yap, teras BRI, WOW BTPN.... Bukan oleh BPR NTB, bukan oleh BPD NTB....

Usaha-usaha mikro ini, menggunakan layanan keuangan digital gopay, ovo,dan BNI, BTPN, BRI, dll.

Artinya Bank NTB dan BPR NTB sdah segera Go Digital sebelum tertinggal dg kompetitor lainnya ya pk maman.? dan bank daerah tersebut menjadi tuan rumah d daerah sendiri ?

Betul. Dan, harus men-digitalisasi usaha-usaha mikro... Jangan hanya sebatas membangun teknologi financial nya, jangan hanya sebatas men-digitalisasi layanan keuangannya.

Tapi, harus membangun underlying transaction nya, dengan cara mendukung pengembangan digitalisasi usaha-usaha mikro.

Jangan sampai: layanan keuangan nya sudah DIGITAL, tapi tidak ada yang menggunakan, karena nasabah lebih senang menggunakan layanan keuangan fintech (Gopay, Ovo). Bukan layanan keuangan digital Bank / BPR NTB.

Pada hari Jum'at, tanggal 12 April 2019, bertempat di Wantilan Desa Adat Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali, dilakukan penandatangan kerjasama antara Badan Kerjasama Lembaga Perkreditan Desa (BKS LPD) Bali dengan BPJS Kesehatan.

Pihak Badan Kerjasama LPD (BKS LPD), di wakili oleh Ketua BKS Provinsi Bali Bapak Drs I Nyoman Cendikiawan, SH., MSi. Sedangkan, dari pihak BPJS Kesehatan diwakili oleh Direktur Keuangan Bapak Kemal Imam Santoso, MBA.

Kerjasama ini adalah merupakan salah satu realisasi dari proses panjang upaya Transformasi Digital yang sedang dilakukan LPD. Transformasi Digital yang tidak bisa dihindari di saat ekonomi sedang bergerak, berubah (ber transformasi) menuju ekonomi digital (digital economy).

Transformasi Digital LPD sendiri (dengan tagline: LPD Go Digital), meliputi 3 aspek:

  1. Digitalisasi Proses
  2. Digitalisasi Layanan
  3. Digitalisasi Bisnis

Kerjasama dengan BPJS ini, merupakan perwujudan dari proses transformasi terkait aspek layanan dan bisnis.

Layanan: Dengan kerjasama ini, diharapkan layanan LPD kepada krama / nasabah semakin bertambah, baik jenis layanannya maupun kualitas layanannya,

Bisnis: Dengan kerjasama ini, bisnis LPD semakin berkembang, tidak hanya sekedar simpan pinjam. LPD berupaya untuk memenuhi semua kebutuhan krama khususnya yang ada kaitannya dengan layanan keuangan,

Kerjasama ini juga merupakan momen PENTING dari proses transformasi digital LPD (LPD Go Digital). Dengan adanya kerjasama ini, hari ini, BKS menunjukkan & mendeklarasikan diri, bahwa LPD, dengan KEKUATAN yang dimiliki nya selama ini (adat, jaringan, pengalaman, SDM), ditambah dengan kekuatan teknologi digital, SAAT ini, SIAP bekerjasama dengan berbagai pihak, baik PEMERINTAH maupun Swasta / perusahaan.

Ber-istiqamah di atas al-haq tanpa perlu di-iringi sikap ekstrim dan tidak pula sikap apatis.

"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat berserta kamu dan janganlah kamu melampui batas." (Hud : 112)

"Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (an-Nahl:125)

"Sesungguhnya Allah ta'ala mencintai sikap lemah lembut pada setiap perkara." (HR. al-Bukhari no. 5565)

Permasalahan terkait presepsi, secara singkat dapat dinyatakan sebagai berikut:

Jika semua dunia fisik yang ada di sekitar kita adalah suatu realitas external yang independen dari keberadaan kita, dan keberadaannya ada di ruang dan waktu yang juga eksis independen dari kita, dan bahwa pengetahuan kita terhadap dunia tersebut adalah hasil interaksi indera kita dengan dunia fisik tersebut yang mana melalui interaksi tersebut, muncullah penyimpulan dalam otak kita terhadap keberadaan dunia tersebut (presepsi), maka pertanyaannya adalah: bagaimana kita bisa yakin bahwa presepsi tersebut benar-benar berkorespondensi dengan realitas sebenarnya dari dunia fisik tersebut? Bukankah sering terbukti bahwa indera kita sering salah?

Untuk membuktikan kebenarannya, kita harus membandingkan dengan realita aslinya. Tapi persoalannya, kita tidak punya akses terhadap realitas aslinya. Kita hanya punya akses terhadap salinannya, yang bahkan dari salinan tersebut, kita menarik kesimpulan terhadap keberadaan realitas aslinya.

Kesalahan presepsi sudah umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seekor ular di atas meja yang kita prsepsikan, ternyata adalah sebuah lukisan tiga dimensi yang sangat sempurna. Warna-warna berubah-ubah tergantung pencahayaan dan sudut pandang. Jadi, bagaimana kita bisa yakin bahwa apa yang kita ketahui selama ini tidak keliru?

Lagipula, apa yang kita 'ketahui' sebagai hasil proses otak kita terhadap pencerapan indra kita, apakah benar-benar merupakan realitas tersebut atau hanya sifat-sifatnya saja? Hanya kualitas-kualitas dari objek realitas tersebut? Objek realitas nya sendiri tidak pernah kita ketahui dan fahami. Apakah yang dimaksud dengan 'harimau'? Apakah sesuatu yang bertaring, berbulu loreng, pemakan daging? Berapa banyak kualitas / sifat yang harus kita sebut untuk 'mendefinisikan' realitas harimau? Yang sedang kita bicarakan ini adalah harimau atau sifat-sifat harimau? Jadi apa sebenarnya harimau itu?

Pertama. Jangan menerima sebagai suatu kebenaran apapun yang kita tidak jelas-jelas ketahui kebenarannya.

Kedua. Uraikan permasalahan menjadi satuan-satuan masalah kecil sebanyak mungkin atau sebanyak yang dibutuhkan untuk memudahkan penyelesaian.

Ketiga. Selesaikan satuan satuan masalah tersebut, mulai dari yang paling mudah, lalu meningkat ke masalah yang paling rumit. Tata ulang urutan penyelesaian kalau perlu.

Keempat. Membuat perincian di semua bagian secara detail dan menyeluruh sehingga tidak ada yang terlupakan atau terlewat.

 

Asas berfikir adalah prinsip-prinsip yang menjadi landasan berfikir logis.

  1. Asas Identitas  (principium identitatis). Asas ini menyatakan bahwa sesuatu itu adalah dia, bukan yang lainnya. Jika kita mengetahui bahwa sesuatu itu adalah A, maka pastilah ia A, bukan X, Y atau Z. Bila proposisi itu benar, maka benarlah ia.
  1. Asas kontradiksi (principium contradictoris). Asas ini menyatakan bahwa pengakuan tidak mungkin sama dengan pengingkarannya. Jika kita mengetahui bahwa sesuatu itu bukan A, maka tidak mungkin pada saat itu, ia adalah A. Tidak ada proposisi yang sekaligus benar dan salah.
  1. Asas Penolakan Kemungkinan Ketiga. Asass ini menyatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran, kebenaran terletak pada salah satunya. Tidak mungkin ada kemungkinan ketiga. Suatu proposisi selalu dalam keadaan benar atau salah. Tidak ada kemungkinan ketiga.

    Saat kita mengklaim bahwa sesuatu pasti terjadi, kita berkata: "hujan harus terjadi", "pasti akan terjadi hujan".  Kita juga punya banyak cara untuk menyatakan bahwa, meskipun pada kenyatannya sesuatu tidak terjadi, tapi bisa saja terjadi: "hujan bisa terjadi besok", "bukan tidak mungkin besok akan terjadi hujan". Jika a adalah pernyataan, maka dalam ilmu logika,  klaim bahwa jika a haruslah benar dinyatakan sebagai ☐a. Sedangkan klaim bahwa a bisa saja benar sebagai ♢a. Simbol ☐ dan ♢ disebut modal operator