Skip to content

Pertama. Jangan menerima sebagai suatu kebenaran apapun yang kita tidak jelas-jelas ketahui kebenarannya.

Kedua. Uraikan permasalahan menjadi satuan-satuan masalah kecil sebanyak mungkin atau sebanyak yang dibutuhkan untuk memudahkan penyelesaian.

Ketiga. Selesaikan satuan satuan masalah tersebut, mulai dari yang paling mudah, lalu meningkat ke masalah yang paling rumit. Tata ulang urutan penyelesaian kalau perlu.

Keempat. Membuat perincian di semua bagian secara detail dan menyeluruh sehingga tidak ada yang terlupakan atau terlewat.

 

Asas berfikir adalah prinsip-prinsip yang menjadi landasan berfikir logis.

  1. Asas Identitas  (principium identitatis). Asas ini menyatakan bahwa sesuatu itu adalah dia, bukan yang lainnya. Jika kita mengetahui bahwa sesuatu itu adalah A, maka pastilah ia A, bukan X, Y atau Z. Bila proposisi itu benar, maka benarlah ia.
  1. Asas kontradiksi (principium contradictoris). Asas ini menyatakan bahwa pengakuan tidak mungkin sama dengan pengingkarannya. Jika kita mengetahui bahwa sesuatu itu bukan A, maka tidak mungkin pada saat itu, ia adalah A. Tidak ada proposisi yang sekaligus benar dan salah.
  1. Asas Penolakan Kemungkinan Ketiga. Asass ini menyatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran, kebenaran terletak pada salah satunya. Tidak mungkin ada kemungkinan ketiga. Suatu proposisi selalu dalam keadaan benar atau salah. Tidak ada kemungkinan ketiga.

    Saat kita mengklaim bahwa sesuatu pasti terjadi, kita berkata: "hujan harus terjadi", "pasti akan terjadi hujan".  Kita juga punya banyak cara untuk menyatakan bahwa, meskipun pada kenyatannya sesuatu tidak terjadi, tapi bisa saja terjadi: "hujan bisa terjadi besok", "bukan tidak mungkin besok akan terjadi hujan". Jika a adalah pernyataan, maka dalam ilmu logika,  klaim bahwa jika a haruslah benar dinyatakan sebagai ☐a. Sedangkan klaim bahwa a bisa saja benar sebagai ♢a. Simbol ☐ dan ♢ disebut modal operator

    Menurut bahasa, Ontologi berasal dari bahasa Yunani,yaitu On/ontos = ada, dan logos = ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Ilmu yangmempelajari tentang 'ada' (being).

    Menurut istilah, ontologi adalah ilmu yangmempelajari tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality, baik yang berbentuk jasmani (konkrit) maupun rohani (abstrak).

    Ontologi, meruapakan cabang filsafat 'pertama' dari tiga cabang utama filsafat: ontologi, epistemologi dan axiologi.

    Ontologi membahas tentang 'apa' yang ingin kita ketahui. Epistemologi berbicara tentang 'pengetahuan'. Axiologi berbicara tentang 'nilai' dan 'kegunaan' pengetahuan.

    Argument ontologi tentang keberadaan Tuhan, secara sederhana adalah sebagai berikut:

    • Tuhan adalah adaan yang memiliki semua kesempurnaan.
    • Tetapi, eksistensi adalah kesempurnaan.
    • Jadi, pastilah Tuhan memiliki eksistensi.
    • Maka, Tuhan exist (ada).

    Ketika berbicara tentang alam semesta, pertanyaan yang akhirnya selalu muncul adalah: apakah penyebab munculnya alam semesta? Darimanakah datangnya?

    Jawaban yang akhirnya selalu muncul adalah: Big Bang. Alam semesta berasal dan bermula dari big bang. Big bang adalah penyebab keberadaan alam semesta.

    Bagi sebagian orang, jawaban itu jauh daripada menyelesaikan masalah. Pertanyaan berikutnya: apakah yg menyebabkan big bang. Jawaban yg muncul biasanya: kehendak Tuhan.

    To be continued

    Premise 1: setiap kejadian harus punya penyebab #principle-of-universal-causation
    Premise 2: jika setiap kejadian harus punya penyebab, maka kejadian yang sudah terjadi, haruslah terjadi (must happen). Dengan kata lain, jika kejadian itu harus terjadi, maka tidak mungkin terjadi kejadian lain selain daripada kejadian yang sudah benar-benar terjadi. Terkait dengan tindakan seseorang yang bertanggung jawab terhadap kejadian tersebut, ini berarti seseorang tersebut tidak bisa melakukan sesuatu yg lain selain yang sudah benar2 dia lakukan. #auxiliary-principle

    Premise 3: jika tidak seseorang pun bisa melakukan sesuatu selain yang sudah benar2 dia lakukan, maka tidak seorang pun dapat bertindak bebas #principle-of-avoidability-and-freedom.

    Oleh karenanya, tidak seorang pun bisa bertindak bebas #denial-of -free-will-theory.

    Saya merasa yakin bahwa siapapun yang melakukan instropeksi akan dengan segera bisa menyadari bahwa banyak proses pemikiran dan pengalaman yang tidak melibatkan bahasa.

    Bagaimana, misalnya, kita bisa meng-kata-kata-kan rasa daging, kerupuk, suara si A, suara si B? Bagaimana kita menjelaskan dengan kata-kata lukisan monalisa atau last supper nya leonardo da vinci?

    Jadi, tidak lah benar bahwa kita mengalami dunia melalui kategori-kategori linguistik yang membentuk pengalaman kita atas dunia. Tidak benar pernyataan bahwa "dunia adalah sebagaimana kita deskripsikan melalui kata-kata".

    Kata-kata-tentang-realitas adalah suatu hal. Realitas adalah hal lain.

    Filsafat bukan hanya sebatas permainan kata-kata. Bukan 'talk about talk', sebagaimana yang diyakini dan di praktekkan oleh para pilosof 'era filsafat oxford' (1930-1960 an).

    Ketika socrates bertanya: "apakah itu keadilan", "apakah keberanian itu?". Sesungguhnya dia tidak sedang bertanya tentang definisi kata "keadilan" dan "keberanian". Tapi sedang mempertanyakan hakikat dari fenomena yang existensinya independen dari bahasa.

    Analytic Statements adalah pernyataan-pernyataan yang kebenaran dan kesalahannya bisa ditetapkan dengan cara menganalisis pernyataan itu sendiri.

    Oleh karena itu, penyebab tidak sahnya sebuah pernyataan analitis adalah karena adanya kontradiksi-dalam-dirinya-sendiri (self-contradiction).

    Synthetic Statements adalah pernyataan-pernyataan yang kebenaran kesalahannya hanya bisa ditetapkan dengan mencocokkannya dengan sebuah reaitas di luar pernyataan itu sendiri.

    Oleh karena itu, penyebab tidak sahnya sebuah pernyataan sintesis adalah sebuah pernyataan yang mungkin benar, tetapi dalam kenyataan tidak demikian.

    Cara pandang umum membuat kita sepenuhnya berada dalam kegelapan mengenai hakikat intrisik benda-benda fisik. Dan, kalaupun ada alasan bagus untuk menganggap benda-benda tersebut bersifat mental, kita tidak boleh menolak opini ini hanya karena opini tetsebut terasa aneh buat kita. Kebenaran mengenai benda-benda fisik memang haruslah terasa aneh. 

    -Russel. "The Problems of Philosophy"-