Skip to content

“I choose to…” vs. “I have to…”

Source: https://orgcoach.net/six-step-weekly-planning-process/

Tentang: "Define your key roles"

Start with self, and then identify a maximum of seven roles of greatest importance to you. I’ve shared my own personal roles below as an example, including sub-roles for my “business owner” role.

Example:
Self: physical, mental, spiritual, social
Role #1: Wife
Role #2: Mother
Role #3: Family Member: sister, niece, aunt…
Role #4: Business Owner (see sub-roles)
Role #5: Friend
Role #6: Community Volunteer
Role #7: Singer

 

Sub-roles: Business Owner
Productivity Consultant
Certified Coach
Writer
Speaker/Trainer
Relationship Builder
Manager/Administrator
Lifelong Learner

 

Tentang "Identify weekly goals/choices — in writing".

Goals/Choices: tidak selalu harus merupakan SCHEDULED TASK / TODO!

  • Goals can be focus areas (example: focus on using reflective listening skills with my daughter) or scheduled activities (example: work out at the gym three times for one hour each).
  • Remind yourself of this truth: Every time I say “yes” to someone or something, I am saying “no” to someone or something else!
  • They are driven by conscience and align with your personal vision and mission/purpose.
  • Your focus is on the “important” rather than just the “urgent”
  • They are driven by “I choose to…” rather than “I have to…” or “I should…”
  • These four basic human needs:
      • Physical (doing)
      • Mental (learning)
        Spiritual (understanding/being)
      • Social (relating)
  • Paauwer Question: What is the most important thing I can do in this role this week that will have the greatest positive impact?

Memasuki era ekonomi digital, dimana semua kegiatan ekonomi mulai bergeser menjadi serba digital, maka LPD sebagai lembaga yang selama ini mempunyai peran penting dalam perekonomian krama Bali, mau tidak mau, suka tidak suka, harus menyesuaikan diri. LPD harus melakukan digitalisasi, baik digitalisasi proses, digitalisasi pelayanan maupun digitalisasi usaha (bisnis). LPD harus melakukan transformasi digital.

Sebagai lembaga keuangan yang menyelenggarakan layanan keuangan, maka proses digitalisasi pertama dan utama yang dilakukan oleh LPD tentunya terkait dengan layanan keuangan, yakni penyelenggaraan layanan keuangan berbasis digital. LPD harus mengembangkan FINTECH, financial technology.

Terkait digitalisasi layanan keuangan digital (fintech), LPD Kesiman sudah meluncurkan aplikasi mobile m-pisa (LPD Mobile). Melalui aplikasi LPD mobile m-pisa, nasabah LPD Kesiman bisa meng-akses dan menikmati berbagai layanan keuangan LPD Kesiman secara realtime, online, 24 jam, melalui aplikasi di smartphone. Berbagai layanan yang saat ini sudah bisa dinikmati diantaranya:

  • informasi saldo dan mutasi rekening tabungan
  • informasi saldo dan riwayat kredit
  • informasi saldo deposito
  • transfer / pindah buku antara rekening di LPD
  • transaksi pembayaran tagihan (bill payment) online (PLN, Telkom, BPJS, PDAM, dll)
  • transaksi pembelian (purchase) berbagai product digital (pulsa prepaid PLN, pulsa HP, paket data)
  • transfer ke rekening bank
  • top-up ewallet (Ovo, GoPay)

Namun demikian, LPD Kesiman menyadari, bahwa tantangan lembaga keuangan di era ekonomi digital ini, bukan semata bisa di selesaikan dengan hanya membangun dan mengembangkan layanan keuangan digital (fintech). Tantangan utamanya adalah bagaimana agar layanan keuangan yang sudah di-digitalisasi ini menjadi layanan keuangan yang bisa memenuhi berbagai kebutuhan nasabah, sehingga layanan keuangan digital LPD benar-benar bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi nasabah LPD.

Berkaca dari pengalaman berbagai layanan keuangan digital yang diselenggarakan oleh berbagai lembaga keuangan lain, kami melihat bahwa, meskipun berbagai layanan keuangan digital sudah dikembangkan oleh berbagai lembaga keuangan, namun demikian, layanan keuangan digital yang populer ternyata hanya dikuasai oleh 1-2 layanan keuangan digital (gopay, ovo). Kami menyimpulkan bahwa kunci sukses layanan keuangan di era digital bukan SEMATA DIGITALISASI layanan keuangan. Tapi, harus juga dibangun ‘underlying transaction’ nya. Harus dibangun berbagai kegiatan ekonomi, berbagai kegiatan komersial yang mana semua transaksi keuangannya bisa dilayani oleh layanan keuangan digital LPD. Tidak sebatas hanya bayar tagihan PLN, telkom, BPJS, pulsa. Inilah yang mendasari munculnya gagasan Gerai Pintar LPD.

Gerai Pintar LPD adalah bagian dari upaya LPD Kesiman untuk memperkuat layanan keuangan digital LPD. Melalui gerai pintar LPD, kita membangun dan mendorong berbagai kegiatan ekonomi, berbagai transaksi (underlying transaction), dimana semua transaksi keuangannya dilakukan melalui layanan keuangan digital (fintech) LPD. Melalui LPD Mobile m-pisa, melalui QRCode LPD, melalui Smartcard LPD.

Gerai pintar juga menjadi bagian dari strategi LPD untuk memperluas jaringan pelayanan dan ‘kehadiran’ LPD ke nasabah dan krama Bali. Layanan LPD tidak lagi dibatasi oleh jam kerja LPD. Layanan-layanan keuangan LPD, mulai dari pembukaan rekening, setoran tabungan, penarikan tabungan, pengajuan kredit dan transfer rekening, semuanya bisa dilakukan melalui gerai-gerai pintar LPD.

Gerai pintar juga menjadi bagian dari kontribusi LPD dalam membangun, mengembangkan dan memperkuat (men-digitalisasi) UMKM-UMKM krama Bali, khususnya dalam meng-antisipasi berubahnya model bisnis akibat digitalisasi ekonomi. Melalui Gerai Pintar LPD, UMKM-UMKM ber-transformasi menjadi UMKM-UMKM digital. Warung-warung tradisional milik krama Bali, tidak lagi sebatas melayani penjualan barang-barang FISIK (OFFLINE) yang ada di stock etalase nya, tapi juga melayani penjualan barang-barang secara ONLINE, yang ada di etalasi-etalasi DIGITAL yang ada di smartphone aplikasi gerai pintar LPD.

Task Management vs Time Management

Covey lebih menekankan kepada metodologi berfikir.
GTD, menekankan aspek metodologi menulis.

Covey, mengajarkan bagaimana cara membuat perencanaan.
GTD, mengajarkan bagaimana cara menjalankan rencana-rencana tersebut.

Covey, berbicara tentang Task Management: apa yang harus dikerjakan.
GTD, berbicara tentang Time Management: kapan harus dikerjakan.

Covey berbicara tentang efektifitas.
GTD berbicara tentang efisiensi.

#leadership #management #habi

Permasalahan terkait presepsi, secara singkat dapat dinyatakan sebagai berikut:

Jika semua dunia fisik yang ada di sekitar kita adalah suatu realitas external yang independen dari keberadaan kita, dan keberadaannya ada di ruang dan waktu yang juga eksis independen dari kita, dan bahwa pengetahuan kita terhadap dunia tersebut adalah hasil interaksi indera kita dengan dunia fisik tersebut yang mana melalui interaksi tersebut, muncullah penyimpulan dalam otak kita terhadap keberadaan dunia tersebut (presepsi), maka pertanyaannya adalah: bagaimana kita bisa yakin bahwa presepsi tersebut benar-benar berkorespondensi dengan realitas sebenarnya dari dunia fisik tersebut? Bukankah sering terbukti bahwa indera kita sering salah?

Untuk membuktikan kebenarannya, kita harus membandingkan dengan realita aslinya. Tapi persoalannya, kita tidak punya akses terhadap realitas aslinya. Kita hanya punya akses terhadap salinannya, yang bahkan dari salinan tersebut, kita menarik kesimpulan terhadap keberadaan realitas aslinya.

Kesalahan presepsi sudah umum terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Seekor ular di atas meja yang kita prsepsikan, ternyata adalah sebuah lukisan tiga dimensi yang sangat sempurna. Warna-warna berubah-ubah tergantung pencahayaan dan sudut pandang. Jadi, bagaimana kita bisa yakin bahwa apa yang kita ketahui selama ini tidak keliru?

Lagipula, apa yang kita 'ketahui' sebagai hasil proses otak kita terhadap pencerapan indra kita, apakah benar-benar merupakan realitas tersebut atau hanya sifat-sifatnya saja? Hanya kualitas-kualitas dari objek realitas tersebut? Objek realitas nya sendiri tidak pernah kita ketahui dan fahami. Apakah yang dimaksud dengan 'harimau'? Apakah sesuatu yang bertaring, berbulu loreng, pemakan daging? Berapa banyak kualitas / sifat yang harus kita sebut untuk 'mendefinisikan' realitas harimau? Yang sedang kita bicarakan ini adalah harimau atau sifat-sifat harimau? Jadi apa sebenarnya harimau itu?

Pertama. Jangan menerima sebagai suatu kebenaran apapun yang kita tidak jelas-jelas ketahui kebenarannya.

Kedua. Uraikan permasalahan menjadi satuan-satuan masalah kecil sebanyak mungkin atau sebanyak yang dibutuhkan untuk memudahkan penyelesaian.

Ketiga. Selesaikan satuan satuan masalah tersebut, mulai dari yang paling mudah, lalu meningkat ke masalah yang paling rumit. Tata ulang urutan penyelesaian kalau perlu.

Keempat. Membuat perincian di semua bagian secara detail dan menyeluruh sehingga tidak ada yang terlupakan atau terlewat.

 

Asas berfikir adalah prinsip-prinsip yang menjadi landasan berfikir logis.

  1. Asas Identitas  (principium identitatis). Asas ini menyatakan bahwa sesuatu itu adalah dia, bukan yang lainnya. Jika kita mengetahui bahwa sesuatu itu adalah A, maka pastilah ia A, bukan X, Y atau Z. Bila proposisi itu benar, maka benarlah ia.
  1. Asas kontradiksi (principium contradictoris). Asas ini menyatakan bahwa pengakuan tidak mungkin sama dengan pengingkarannya. Jika kita mengetahui bahwa sesuatu itu bukan A, maka tidak mungkin pada saat itu, ia adalah A. Tidak ada proposisi yang sekaligus benar dan salah.
  1. Asas Penolakan Kemungkinan Ketiga. Asass ini menyatakan bahwa antara pengakuan dan pengingkaran, kebenaran terletak pada salah satunya. Tidak mungkin ada kemungkinan ketiga. Suatu proposisi selalu dalam keadaan benar atau salah. Tidak ada kemungkinan ketiga.

    Saat kita mengklaim bahwa sesuatu pasti terjadi, kita berkata: "hujan harus terjadi", "pasti akan terjadi hujan".  Kita juga punya banyak cara untuk menyatakan bahwa, meskipun pada kenyatannya sesuatu tidak terjadi, tapi bisa saja terjadi: "hujan bisa terjadi besok", "bukan tidak mungkin besok akan terjadi hujan". Jika a adalah pernyataan, maka dalam ilmu logika,  klaim bahwa jika a haruslah benar dinyatakan sebagai ☐a. Sedangkan klaim bahwa a bisa saja benar sebagai ♢a. Simbol ☐ dan ♢ disebut modal operator

    Menurut bahasa, Ontologi berasal dari bahasa Yunani,yaitu On/ontos = ada, dan logos = ilmu. Jadi, ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Ilmu yangmempelajari tentang 'ada' (being).

    Menurut istilah, ontologi adalah ilmu yangmempelajari tentang hakikat yang ada, yang merupakan ultimate reality, baik yang berbentuk jasmani (konkrit) maupun rohani (abstrak).

    Ontologi, meruapakan cabang filsafat 'pertama' dari tiga cabang utama filsafat: ontologi, epistemologi dan axiologi.

    Ontologi membahas tentang 'apa' yang ingin kita ketahui. Epistemologi berbicara tentang 'pengetahuan'. Axiologi berbicara tentang 'nilai' dan 'kegunaan' pengetahuan.

    Argument ontologi tentang keberadaan Tuhan, secara sederhana adalah sebagai berikut:

    • Tuhan adalah adaan yang memiliki semua kesempurnaan.
    • Tetapi, eksistensi adalah kesempurnaan.
    • Jadi, pastilah Tuhan memiliki eksistensi.
    • Maka, Tuhan exist (ada).

    Ketika berbicara tentang alam semesta, pertanyaan yang akhirnya selalu muncul adalah: apakah penyebab munculnya alam semesta? Darimanakah datangnya?

    Jawaban yang akhirnya selalu muncul adalah: Big Bang. Alam semesta berasal dan bermula dari big bang. Big bang adalah penyebab keberadaan alam semesta.

    Bagi sebagian orang, jawaban itu jauh daripada menyelesaikan masalah. Pertanyaan berikutnya: apakah yg menyebabkan big bang. Jawaban yg muncul biasanya: kehendak Tuhan.

    To be continued

    Premise 1: setiap kejadian harus punya penyebab #principle-of-universal-causation
    Premise 2: jika setiap kejadian harus punya penyebab, maka kejadian yang sudah terjadi, haruslah terjadi (must happen). Dengan kata lain, jika kejadian itu harus terjadi, maka tidak mungkin terjadi kejadian lain selain daripada kejadian yang sudah benar-benar terjadi. Terkait dengan tindakan seseorang yang bertanggung jawab terhadap kejadian tersebut, ini berarti seseorang tersebut tidak bisa melakukan sesuatu yg lain selain yang sudah benar2 dia lakukan. #auxiliary-principle

    Premise 3: jika tidak seseorang pun bisa melakukan sesuatu selain yang sudah benar2 dia lakukan, maka tidak seorang pun dapat bertindak bebas #principle-of-avoidability-and-freedom.

    Oleh karenanya, tidak seorang pun bisa bertindak bebas #denial-of -free-will-theory.