Skip to content

Task Management vs Time Management

Covey lebih menekankan kepada metodologi berfikir.
GTD, menekankan aspek metodologi menulis.

Covey, mengajarkan bagaimana cara membuat perencanaan.
GTD, mengajarkan bagaimana cara menjalankan rencana-rencana tersebut.

Covey, berbicara tentang Task Management: apa yang harus dikerjakan.
GTD, berbicara tentang Time Management: kapan harus dikerjakan.

Covey berbicara tentang efektifitas.
GTD berbicara tentang efisiensi.

#leadership #management #habi

Wawancara untuk Harian Radar Lombok / Jawa Pos

Pertama, bahwa, industri keuangan, sekarang sedang mendapat 'ancaman' dari industri yang justeru tidak berlatar belakang industri keuangan. Tapi, industri e-commerce.

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4424794/gopay--ovo-laris-manis-sri-mulyani-minta-pns-kemenkeu-gerak-cepat

https://www.cnbcindonesia.com/fintech/20181205152340-37-45092/alibaba-google-amazon-jadi-ancaman-terbesar-bisnis-bank

Mengapa demikian? jawabannya sederhana. Industri keuangan bukanlah industri yang berdiri sendiri, bahkan bukan industri 'hulu', bukan 'driver' pertama industri-industri lainnya. Industri keuangan muncul dan akan berkembang jika ada kegiatan ekonomi, ada transaksi yang mendasarinya: underlying transaction.

Tidak mungkin kita sekonyong-konyong membangun kantor dan layanan bank di daerah pelosok, daerah rintisan, dan berharap layanan keuangan disitu berkembang pesat. Bank (layanan keuangan), hanya akan muncul di suatu wilayah, jika di wilayah tersebut sudah ada kegiatan perekonomian lainnya, sudah ada transaksi jual beli, sudah ada underlying transaction.

Itulah sebabnya, go-pay, ovo, bisa langsung melejit mengalahkan layanan-layanan keuangan baik dari perbankan maupun fintech.

Go-pay dan Ovo (layanan keuangan digital), dihadirkan ke masyarakat, dengan membawa serta underlying transactionnya. Go-pay dan Ovo, tidak hanya sebatas untuk pembayaran e-payment (bayar listrik, PDAM, pulsa) dan transfer. Tapi juga membawa seabrek berbagai jenis transaksi yang pembayarannya menggunakan Go-pay atau OVO. Mulai dari bayar parkir, sampai beli tiket.

Ini yang tidak bisa dihadirkan oleh industri perbankan.

Tidak sampai 1 tahun, go-pay, ovo: menggilas layanan2 keuangan perbankan dan fintech, khususnya untuk transaksi micro-payment.

Kesimpulannya: pengembangan layanan keuangan digital yang akan dan sedang dilakukan oleh perbankan, khususnya BPD NTB, BPR NTB, BPD Syariah; agar bisa sukses, harus juga dibarengi dengan pengembangan industri e-commerce nya. Underlying transaction nya harus dibangun, di perkaya. Kalau tidak, maka, masyarakat dan nasabahnya tetap akan lebih memilih layanan keuangan Go-pay, OVO dan lainnya, yang mempunyai content yang jauh lebih banyak dan luas.

Kalau dalam konteks bank ntb syariah dan BPR NTB yang memang pangsa pasarnya di NTB ini dalam pengembangan digital seberapa besar peluang menggaet nasabah ataupun pelayanannya?

Kuncinya adalah: Underlying tansaction. Content2 lokal, transaksi2 lokal, pembayaran2 lokal, harus di kembangkan. BPR NTB dan BPD NTB harus mendukung upaya membangun content2 lokal, pembayaran2 lokal, transaksi2 lokal.

Jangan biarkan, content2 lokal diberikan ke pihak luar. Misal: pembayaran PDAM NTB, hanya bisa bilakukan oleh BPR NTB, BPD NTB. Transaksi2 di komplek wisata mandalika, hanya bisa dilayani oleh BPR NTB, BPD NTB... dst...

Jangan terlalu fokus hanya mengembangkan teknologi keuangan nya. Tapi, harus didukung oleh pengembangan content nya.

Pemda harus mendorong, agar lembaga-lembaga keuangan NTB, mendapat prioritas untuk semua kegiatan transaksi digital di wilayah NTB.

Contoh, ketika Cina membangun sistem pembayaran nasional nya (Union Pay) dalam rangka menggeser dominasi Visa Master. Pemerintah cina, mewajibkan semua transaksi di hotel2, mall2, toko2, restoran2 di china, agar menggunakan Union Pay, bahkan, mewajibakan hanya menerima Union Pay.

Meskipun pada awalnya di protes oleh berbagai pihak, tapi, terbukti sekarang, Union Pay berhasil menggeser dominasi Visa Master di China.

untuk menuju NTB Go Digital apa saja yang harus dipersiapkan Bank NTB Syariah dan BPR NTB?

  1. Teknologi finansial (fintech), jelas harus dibangun, dengan paradigma: bagaimana agar nasabah bisa bertransaksi dengan lebih mudah, lebih murah dan jangkauan pelayanan yang luas.
  2. Bekerjasama dengan para pihak (pemda, swasta pelaku usaha, pariwisata...), untuk bersama-sama mengembangkan 'content' layanan keuangan layanan keuangan digital Bank NTB. Yakni, bagaimana, kalau memungkinkan, semua transaksi-transaksi yang terjadi, mem-prioritaskan atau bahkan, hanya bisa dilayani oleh layanan keuangan digital Bank NTB. Sehingga, masyarakat / nasabah, akan memilih menggunakan layanan keuangan digital Bank NTB, alih-alih menggunakan layanan keuangan bank lain di luar NTB atau layanan-layanan keuangan fintech.

Kalau untuk BPR NTB sendiri yang memag pangsa pasarnya adalah usaha mikro pedesaan bagaimana dalam pengembangan digital ini Pak Maman?

Digitalisasi usaha mikro. Bagaimana, agar usaha-usaha mikro ini, bisa bertransaksi menggunakan layanan keuangan digital BPR NTB.

Suka atau tidak suka, ada upaya dari BPR NTB atau tidak, lambat laun, usaha-usaha mikro ini, akan menggunakan layanan keuangan OVO, go-pay, dan layanan2 keuangan lainnya. Bukan layanan keuangan digital BPR NTB.

Perlahan (bahkan cepat) tapi pasti, warung2 makanan, sudah di tempel QRCode OVO, Go-pay, Yap BNI.... Itu semua layanan keuangan digital. Dan, tidak ada satupun layanan keuangan BPR atau BPD NTB.

Kami punya konsep, bagaimana men-digitalisasi usaha-usaha mikro ini, menjadi go-digital. Melalui pembentukan GERAI PINTAR DIGITAL.

De facto: usaha-usaha mikro ini, sekarang, di digitalisasi oleh gopay, ovo, BNI Yap, teras BRI, WOW BTPN.... Bukan oleh BPR NTB, bukan oleh BPD NTB....

Usaha-usaha mikro ini, menggunakan layanan keuangan digital gopay, ovo,dan BNI, BTPN, BRI, dll.

Artinya Bank NTB dan BPR NTB sdah segera Go Digital sebelum tertinggal dg kompetitor lainnya ya pk maman.? dan bank daerah tersebut menjadi tuan rumah d daerah sendiri ?

Betul. Dan, harus men-digitalisasi usaha-usaha mikro... Jangan hanya sebatas membangun teknologi financial nya, jangan hanya sebatas men-digitalisasi layanan keuangannya.

Tapi, harus membangun underlying transaction nya, dengan cara mendukung pengembangan digitalisasi usaha-usaha mikro.

Jangan sampai: layanan keuangan nya sudah DIGITAL, tapi tidak ada yang menggunakan, karena nasabah lebih senang menggunakan layanan keuangan fintech (Gopay, Ovo). Bukan layanan keuangan digital Bank / BPR NTB.

Ber-istiqamah di atas al-haq tanpa perlu di-iringi sikap ekstrim dan tidak pula sikap apatis.

"Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat berserta kamu dan janganlah kamu melampui batas." (Hud : 112)

"Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Rabbmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk." (an-Nahl:125)

"Sesungguhnya Allah ta'ala mencintai sikap lemah lembut pada setiap perkara." (HR. al-Bukhari no. 5565)